Bagi anda peternak ayam bangkok ataupun ayam broiler tentunya pernah melihat ayam anda berak ada darahnya, penyakit berak darah atau dalam bahasa keren ilmiah disebut koksidiosis hanya berada di urutan ke-9 dan ke-7 rangking penyakit yang menyerang ayam layer dan broiler. Meski demikian, bukan berarti peternak bisa menganggap enteng karena penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.

Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal, sehingga berujung menimbulkan kerugian berupa pertumbuhan berat badan rendah, penurunan produksi telur, serta kematian (mortalitas) yang tinggi hingga mencapai 80-90%. Selain itu, koksidiosis juga dapat menimbulkan efek imunosupresif yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Penyebab ayam terkena penyakit berak darah adalah ayam terkena Penyakit koksidiosis disebabkan oleh berbagai parasit protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria. Saat ini diketahui ada 9 spesies Eimeria yang menyerang ayam, dengan 6 spesies di antaranya bersifat patogenik (menimbulkan sakit). Keenam spesies itu adalah E. tenella, E. necratix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti dan E. mitis.

Cara Mencegah Koksidiosis

  • Memberantas ookista
    Untuk mencegah koksidiosis, harus dicermati bahwa protozoa/koksidia penyebabnya memiliki siklus hidup yang panjang untuk menjadi sebuah individu Eimeria sp. yang utuh. Oleh karena itu, pengendalian paling efektif yang pertama harus dilakukan ialah memotong rantai siklus hidupnya sehingga ia tidak bisa berkembang lebih lanjut.

    Berawal dari ookista yang dikeluarkan bersama dengan feses ayam, jika lingkungan sekitar lembab dan basah, ookista akan terus berkembang dan bersporulasi hingga akhirnya bisa menginfeksi ayam. Agar ookista tidak lanjut bersporulasi, peternak harus melakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Tapi sayangnya, ookista relatif tahan terhadap desinfektan yang banyak dijual di pasaran.

    Tidak hanya tahan terhadap banyak desinfektan, ookista juga sulit diberantas karena ukurannya yang sangat kecil sehingga ia mudah diterbangkan oleh angin dan tersebar kemana-mana. Ookista juga mudah terbawa oleh peralatan kandang, serangga atau burung liar hingga tersebar ke wilayah lain.

    Meski begitu, masih ada cara yang bisa kita gunakan untuk memberantas ookista. Cara tersebut yaitu memberikan kapur atau soda kaustik pada permukaan litter yang lembab dan basah. Kapur dan soda kaustik merupakan bahan aktif yang bersifat basa. Ketika kedua bahan tersebut larut dalam air atau media yang basah (litter basah, red), maka akan dihasilkan panas yang tinggi. Sementara, ookista tidak tahan terhadap suhu ekstrim panas > 55ºC. Ookista juga dapat mati jika berada pada kondisi suhu sangat dingin (suhu beku) dan kekeringan yang ekstrim.

  • Memperbaiki manajemen pemeliharaan ayam

    Perhatikan suhu, kelembaban, ventilasi, kepadatan kandang serta kualitas litter atau sekam. Dalam manajemen litter, lakukan pembolak-balikan litter untuk mencegah litter basah. Pada masa brooding, pembolak-balikkan litter dilakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali mulai umur 4 hari sampai umur 14 hari. Segera ganti litter yang basah dan menggumpal. Jika jumlah yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik tumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak.

    Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Jika melakukan self mixing, hindari penggunaan tepung ikan atau pollard berlebihan karena kandungan protein yang terlalu tinggi dalam bahan pakan tersebut bisa menyebabkan feses encer dan litter cepat basah.

  • Memberikan koksidiostat
    Langkah pencegahan koksidiosis selanjutnya yang dapat diterapkan ialah memberikan koksidiostat secara terus-menerus pada ransum. Pemberian koksidiostat pada ransum dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan koksidia sampai level rendah (tidak mengakibatkan outbreak penyakit). Contoh koksidiostat yang digunakan ialah antibiotik golongan ionofor (monensin, salinomycin, narasin, maduramycin). Beberapa pabrik pakan diketahui sudah menambahkan koksidiostat ke dalam ransum yang diproduksinya. Meski demikian, karena koksidiostat diberikan dalam waktu lama, maka perlu dilakukan rolling koksidiostat yang diberikan. Jika tidak, maka koksidia akan resiten dan koksidiostat tidak akan mempan menangkal serangan ookista di dalam tubuh ayam.

selanjunya adalah cara pengobatan :

Ayam yang terserang koksidiosis bisa diobati dengan pemberian obat antikoksidia. Pemberian antikoksidia dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya yang ada di tubuh ayam bisa ditekan dalam level rendah. Saat ini berbagai macam produk antikoksidia sudah banyak diproduksi, baik dari golongan sulfa/sulfonamide, amprolium, maupun generasi baru seperti toltrazuril. Namun yang harus benar-benar diperhatikan ialah dosis dan aturan pakai, serta peringatan yang tercantum pada label obat. Hal ini untuk mencegah resistensi spesies Eimeria. Munculnya strain Eimeria yang resisten terhadap antikoksidia dapat menimbulkan masalah besar bagi peternak. Kasus koksidiosis yang terus berulang adalah salah satu dampaknya. Sebaiknya lakukan rolling menggunakan antikoksidia dari golongan yang berbeda setiap interval 3-4 kali pengobatan.

sumber info : info.medion.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>